|
|
Home
|
Identifikasi Fungsi-fungsi Pendidikan |
|
|
|
|
Thursday, 13 December 2007 |
|
Sekolah melakukan identifikasi fungsi-fungsi pendidikan dalam program rintisan SMA BI. Fungsi-fungsi tersebut meliputi sebagai berikut:
Pengembangan Kurikulum
- Kurikulum isi.
Kurikulum yang diterapkan, yaitu:
- Adaptasi KTSP dengan kurikulum bertaraf Internasional
Mata pelajaran yang diadaptasikan ke dalam kurikulum bertaraf internasional adalah matematika, fisika, kimia, biologi dan bahasa Inggris,
- Kurikulum Khas
SMU Lazuardi menyelenggarakan program-program khas, yaitu Qur’anic Language dan research.
Quranic Language diberikan secara reguler kepada murid kelas I, II, dan III.
Research. Program ini diberikan secara reguler kepada siswa kelas X dan XI. Sebagai bentuk nyata target research maka kelas X diwajibkan membuat projek sedangkan kelas XI diwajibkan membuat karya ilmiah.
- Kurikulum pertumbuhan pribadi
Kurikulum ini meliputi rasa percaya diri, motivasi, ketrampilan berkomunikasi, dan ketrampilan menjalin relasi. Bentuk nyata yang dilakukan adalah dengan kegiatan out bound yang dikemas dalam Quantum Training, guna membangun kepercayaan diri, team building serta achievement motivations. Muhadharah dimaksud untuk mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi, serta latihan dasar kepemimpinan (Leadership Training Program – LTP) untuk menyiapkan generasi pemimpin masa depan bangsa.
- Kurikulum ketrampilan hidup
Kurikulum yang berada di Lazuardi seluruhnya merupakan kurikulum, yang meliputi pengaturan kemadirian, pemecahan masalah secara kreatif (problem solver), perencanaan masa depan, manajemen konflik. Pada sisi yang lain siswa dituntut untuk mampu mengatur pola hidupnya sendiri.
- Kurikulum “Belajar untuk belajar” dan “Belajar untuk berpikir”.
Konsep ini meliputi jenis ketrampilan “how to”. Dengan demikian, pembelajaran sepanjang hayat menjadi mengasyikan, cepat dan efektif.
- Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler adalah kegiatan belajar yang programnya dirancang dalam rangka mengembangkan bakat kreatifitas mereka. Program ini dilaksanakan setiap hari mulai pukul 14.20 sampai dengan pukul 16.00. Program pilihan ini meliputi:
- Program pengembangan Bahasa : Jerman, Jepang, Arab.
- Program Pengembangan Seni : Tari, Kriya, Teater.
- Program Pengembangan Olah Raga : Sepak Bola, Basket Ball, Bulu Tangkis.
- Program pengembangan kreatifitas: jurnalistik, science club, social club.
Proses Pembelajaran
- Pengembangan KBM berbasis bahasa Inggris dan ICT
Sylabus, Bahan ajar, rencana pembelajaran, soal, software berbahasa Inggris.
- Pengembangan metode mengajar yang berstandar Internasional
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMA Lazuardi lebih menekankan pada proses, bukan penjejalan materi. Metode pembelajaran yang digunakan melalui pendekatan sistematik Quantum Learning, Accelerated Learning, kontextual learning, Multiple Intelligence. SMA Lazuardi memerlukan sebuah penggantian model belajar yang terpusat pada guru (central teacher), menjadi bersifat terarah siswa (student oriented), yakni model belajar aktif dan mandiri, di mana Guru lebih berfungsi sebagai fasilitator yang mengembangkan potensi yang telah tersedia dalam diri anak didik. SMA Lazuardi menyadari bahwa setiap individu mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda, ada yang suka menyendiri dengan suasana hening, ada yang suka bekerja kelompok, berdiskusi, presentasi. SMA Lazuardi yang berorientasi kepada sekolah masa depan tentunya mengakomodir semua kecenderungan-kecenderungan tersebut, sehingga bukan hanya kecerdasan intelegensia saja yang dibangun melainkan juga kecerdasan emosional, sosial dan fisik. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence mengatakan, bahwa kontribusi IQ (Intelektual Quotient) dalam menentukan kesuksesan seseorang maksimal sekitar 20%, sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh factor-faktor lain, yaitu EQ (Emotional Quotient).
Proses, Prinsip dan strategi pembelajaran yang diterapkan SMA Lazuardi adalah:
- Siswa didorong untuk menemukan sendiri informasi yang diperlukannya, agar ilmu lebih mudah dipahami, dihayati dan lebih lestari tertanam. Hafalan tanpa berpikir (rote memorization) kecuali untuk pelajaran, topik atau rumus-rumus tertentu, harus sejauh mungkin dihindarkan. Itu pun, sedapat mungkin diupayakan pengertiannya dan dengan mendasarkan pada prinsip “AMBAK” (“Apa Manfaatnya Bagiku”).
- Siswa, guru dan orang tua terhindar dari stress akibat terlalu banyak materi yang dijejalkan, apalagi jika tidak semua materi itu dibutuhkan atau diinginkan oleh sang siswa. Kenyataannya, penjejalan materi hanya bermanfaat untuk mengejar nilai (ulangan atau ujian) sesaat dan selebihnya mudah dilupakan.
- Guru punya cukup waktu untuk menyampaikan materi lewat proses KBM yang sesuai dengan prinsip-prinsip “ke-Lazuardi-an”, termasuk penciptaan lingkungan dan mendukung proses belajar (brain based learning, penataan pentas dan penerapan teknik-teknik KBM yang efektif), demokratis, partisipatif, dan membangkitkan keyakinan diri serta pemberian waktu yang cukup untuk melayani berbagai modalitas dan gaya belajar siswa (penanaman pengetahuan dan wawasan yang amat terinci dan keahlian-keahlian serta ketrampilan-ketrampilan yang amat tekhnis memang merupakan tugas pendidikan Universitas atau paling jauh pra-Universitas).
- Memberi peluang sebesar-besarnya bagi siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan yang perlu diketahuinya. Kegiatan pembelajaran berorientasi pada proses (active Learning).
- Memberikan porsi cukup pada praktik (hands on learning/learning by doing) untuk memperkuat metode instruksional klasikal.
- Memanfaatkan lingkungan hidup secara maksimal sebagai salah satu medium belajar.
- Menekankan pada partisipasi dan prestasi dalam kegiatan intern dan ekstern sekolah.
- Pengayaan materi, diharapkan akan dilakukan oleh siswa dengan bantuan guru ketika siswa sudah tertarik untuk mengembangkan ilmunya sendiri dan tahu cara-cara serta menguasai sarana-sarana pengembangan ilmunya sendiri. Kecuali untuk konsep dari prinsip-prinsip umum yang relevan untuk kehidupan siswa baik pada masa sekarang maupun ketika mereka dewasa nantinya tetap diberikan dan difasilitasi oleh guru.
- Mengembangkan lingkungan belajar-mengajar yang menyenangkan dan demokratis dengan memunculkan kecintaan dan saling menghargai antara guru dan murid.
- Meringkas dan memadatkan jika dirasa perlu menambah materi kurikulum demi mendapatkan masa pembelajaran yang lebih panjang serta efisien dan efektif.
- Menekankan penguasaan materi bukan hanya secara kognitif (intelektual) dan afektif (emosional), melainkan juga psikomotorik (ketrampilan), sikap dan perilaku lewat latihan-latihan sejak dini. Dalam hubungan ini, penilaian tidak semata-mata dilakukan melalui tes tertulis, melainkan dari penghayatan dan praktik.
Penilaian
Penilaian dan pengajaran merupakan dua sisi mata uang yang harus dilihat sebagai dua hal yang tidak terpisahkan. Percuma saja meminta siswa terlibat dalam pengalaman yang luas tetapi kemudian menyuruh menunjukkan apa yang telah mereka pelajari melalui tes-tes standar yang hanya difokuskan pada wilayah verbal atau logis. Kita ketahui Tes Standar memiliki kelemahan, yakni keharusan siswa untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari sepanjang tahun melalui cara yang sangat terbatas (meminta siswa duduk di kursi, mengerjakan tes dalam waktu yang ditentukan, dan tidak berbicara kepada siapapun selama tes).
Berdasarkan kenyataan di atas, Lazuardi harus menyesuaikan cara penilaian yang digunakan untuk mengevaluasi kemajuan belajar melalui perombakan yang fundamental dalam cara menilai kemajuan belajar siswa yang tidak bergantung pada tes standar atau tes yang didasarkan pada norma formal, tetapi lebih banyak didasarkan pada penilaian authentik (asli) yang mengacu pada kriteria tertentu, tes yang memiliki titik acuan tertentu, atau ipsative (yaitu tes yang membandingkan prestasi siswa saat ini dengan prestasinya yang lalu).
Pengukuran authentik suatu penilaian dapat menguji pemahaman siswa tentang materi pelajaran secara lebih menyeluruh dibandingkan dengan tes pilihan ganda atau soal isian. Pengukuran authentik memungkinkan siswa memperlihatkan apa yang telah mereka pelajari dalam suasananya (dalam setting yang sedapat mungkin menyerupai lingkungan tempat mereka diharapkan menunjukkan hasil proses belajar itu pada kehidupan nyata). Penilaian authentik meliputi bermacam-macam instrumen, ukuran, dan metode. Prasyarat penilaian authentic:
- Mengobservasi cara siswa memecahkan suatu persoalan atau menciptakan suatu produk dalam konteks kehidupan nyata.
- Portofolio (Pendokumentasian proses belajar mengajar). Pendokumentasian tidak sebatas pada pekerjaan yang berkaitan dengan kecerdasan linguistik dan matematis-logis, namun dianjurkan portofolio diperluas pada kedelapan unsur kecerdasan. Lima manfaat dasar portofolio:
- Mengakui dan menghargai hasil Karya dan prestasi siswa selama satu tahun pelajaran.
- Membantu siswa menilai sendiri hasil karya mereka (kognisi).
- Mengkomunikasikan kemajuan proses belajar siswa kepada orang tua dan siswa sendiri.
- Menyediakan sarana bagi sekelompok siswa sehingga dapat menghasilkan karya cipta dan mengevaluasinya secara kolektif (Kerja sama).
- Menetapkan kriteria yang membandingkan hasil karya siswa dengan siswa lain, atau dengan titik acuan atau standar tertentu (Kompetensi).
Berikut beberapa tekhnik penilaian Portofolio yang bisa kita jadikan acuan untuk memaksimalkan potensi siswa:
- Catatan tertulis mengenai prestasi akademis dan non-akademis, interaksi dengan teman-temannya serta informasi lainnya tentang siswa.
- Contoh Hasil Karya, misalnya: Pencipataan dan pengumpulan karya seni visual, musik dan tulisan kreatif, laporan akhir (projek, eksperimen, laboratorium).
- Kaset, Videotape, Foto untuk kegiatan yang tak bisa terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Misalnya: Presentasikan, debat, diskusi, proses pemecahan masalah, bercerita, wawancara, pidato, dan demonstrasi keahlian.
- Jurnal Siswa untuk mencatat pengalaman siswa di sekolah, termasuk di dalamnya komponen menulis, diagram, coret-coretan, gambar.
- Grafik untuk mencatat kemajuan akademis siswa.
- Tes Informal dengan membuat tes non-standar untuk memperoleh informasi tentang kemampuan siswa di bidang tertentu (pusatkan perhatian pada pembentukan gambaran kualitatif pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan).
- Penggunaan Tes Standar secara Informal. Strategi yang bisa dilakukan dengan meLonggarkan teknis pengerjaan tes, misalnya meminta siswa menjelaskan jawaban mereka, memberikan kesempatan pada siswa untuk menunjukkan jawaban dalam bentuk gambar, bangunan tiga dimensi, musik, peta pikiran atau cara lain.
- Check List tentang kemampuan , ketrampilan atau materi penting yang telah dikuasai siswa, minat serta masalah lain.
- Catatan Kalender dengan meminta siswa membuat catatan tentang kegiatannya setiap hari.
Pengembangan SDM
- Kursus bahasa inggris, diharapkan seluruh komponen SMA Lazuardi dapat berkomunikasi dan mengajara dlm Bhs. Inggris.
- Workshop dan training.
- Peer teaching, yaitu beberapa anggota rumpun diminta untuk mengajar (lima belas menit), sementara anggota yang lainnya diminta untuk mengobservasi dan sekaligus menjadi muridnya. Setelah selesai observer memberi masukan dan mendiskusikan metode terbaik untuk topik yang dibawakan. Metode pembinaan ini memberi beberapa manfaat, diantaranya adalah: meluaskan wawasan para guru mengenai perkembangan dunia pendidikan, khususnya metodologi pengajaran, diskusi evaluasi program dan perencanaan program.
- Rapat mingguan (weekly meeting), guna mengontrol dan mengevaluasi efektifitas KBM.
- Rapat rumpun, Rapat rumpun diadakan setiap 3 minggu sekali. Materi rapat membahas beberapa isu penting yang harus segera dipersiapkan ataupun diperbaiki untuk waktu yang akan datang. Dalam rapat rumpun diupayakan membicarakan berbagai macam hal yang dapat mendukung rumpun. Rumpun yang ada di SMA Lazuardi di bagi 3: pertama, MIPA, kedua, Sosial, ketiga, Bahasa dan Seni.
- Seminar, untuk memperluas pengetahuan guru mengenai kemajuan IPTEK.
- Diskusi Lesson Plan, memberikan masukan mengenai metode yang sesuai pada setiap topik yang akan diajarkan.
- Observasi kelas, salah satu sarana untuk mengetahui sampai sejauh mana kualitas seorang guru dalam menyampaikan materinya (pengajaran) di kelas melalui pendekatan active learning dengan menggunakan pendekatan quantum teaching. Dari hasil observasi inilah kita bisa menilai apakah seorang guru sudah benar-benar mampu menyerap dan menerapkan semua teori yang sudah dipelajari sebelumnya dalam KBM. Dalam observasi meliputi beberapa item yang akan dilihat (dinilai) oleh seorang observer. Item-item tersebut adalah: aim of the lesson, preparation of material, relevant pupil activities, introduction to activities, stimulating, experiencing, naming, motivation, communication, questioning, class control & management, guiding/advising, celebrating, conclusion of lesson, marking/assessing, recording, dan evaluation. Semua unsur tersebut harus muncul selama pengajaran di kelas.
- Kunjungan, mengambil hal-hal positif yang ada di sekolah lain untuk ditularkan di SMA Lazuardi.
Sarana prasarana
Sarana Prasarana merupakan salah satu hal yang harus dipenuhi. Pertanyaan-pertanyaan stake holder selalu terkait dengan kelengkapan sarana prasarana yang dimiliki SMA Lazuardi agar penyelenggaraan pendidikan dapat berjalan ideal. Oleh karena itu kami terus menerus mengupayakan ketersediaan sarana prasarana tersebut. Berikut adalah beberapa pengembangan sarana prasarana:
- Menambah enam lokal kelas dengan desain mutakhir yang dilengkapi dengan sarana central sound system untuk menambah kenyamanan belajar.
- Asrama putri juga sudah dipindahkan secara terpisah dengan desain yang indah dan nyaman.
- Untuk fasilitas, Lab Komputer SMA Lazuardi memiliki 2 buah server dan 24 unit komputer Pentium 4 yang dilengkapi dengan program XP, akses internet, networking cable, DVD writer, CD rom.
- Sedang Lab kimia dan biologi juga terus ditambah dengan peralatan seperti lemari asam, Oven, Incubator, Autoclave, Kit Fisika, Kit Destilasi dan lain-lain sesuai dengan tuntutan Sekolah Nasional Berwawasan Internasional.
- Lapangan basket sudah dengan ukuran standar Internasional.
- Menyesuaikan dengan perkembangan zaman, telah disediakan sarana presentasi berupa Lap Top dan LCD yang membantu siswa dan guru dalam memudahkan memahami materi.
- Perpustakaan terus menambah koleksinya hingga 2.500 judul buku.
Pembiayaan
Berupaya menyediakan anggaran dalam jumlah yang cukup untuk membiayai program program sekolah. Saat ini pembiayaan utama diperoleh dari Yayasan Lazuardi Hayati sedangkan pembiayaan pendukung diperoleh dari proyek SDIP.
Manajemen Sekolah
- Pengembangan sistem kerja dengan alur koordinasi yang teratur sehingga diharapkan seluruh komponen SMA Lazuardi dapat bersinergi dalam membangun sistem.
- Mengembangkan intranet sehingga data akademik, kesiswaan, keuangan, sarana prasarana, personalia, alumni mudah diakses melalui Share Docs dan LAN Talk.
- Pengembangan sistem kontrol untuk mengupayakan efisiensi dan efektifitas kerja.
- Pengembangan disiplin karyawan secara terus menerus.
- Penggunaan sistem penilaian performance appraisal dalam penentuan kenaikan golongan dan salari.
- Pemberian hadiah secara incidental kepada karyawan yang menunjukkan komitmen dan semangat yang tinggi.
- Pemberian hadiah tahunan kepada guru dan karyawan terbaik berdasarkan sistem performance appraisal.
Pembinaan Kesiswaan
- Kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler dilaksanakan terprogram, didukung dana, dan sarana prasarana dari sekolah.
- Tadarus Qur’an, yang dilakukan setiap pagi sebelum memulai pelajaran. Setiap hari pada jam pertama, siswa dibiasakan membaca Al-Qur’an, paling sedikit lima ayat. Tadarus dimaksudkan selain membiasa kan membaca Al-Qur’an, juga untuk membersihkan jiwa agar cahaya Allah mudah masuk ke dalam jiwa.
- Shalat berjamaah, setiap dzhuhur sebelum makan siang, dan Ashar sesudah pulang sekolah. Dimaksudkan untuk membiasakan guru dan murid shalat secara berjamaah.
- Kultum yang dilakukan oleh murid secara bergilir. Kultum ini sebagai media berlatih pidato dan keberanian siswa untuk berbicara di depan umum.
- Initiation Camp (In Camp), atau ‘kamp pendewasaan’. Siswa-siswi kelas II tinggal selama 3 hari di rumah ‘orangtua angkat’ di desa yang dipilih, yang memiliki pekerjaan sebagai buruh atau industri kecil lainnya seperti perajin tahu, batako dsb, di mana siswa harus turut bekerja dalam industri yang menjadi mata pencaharian tuan rumah. Hal ini agar siswa benar-benar dapat menyelami arti kehidupan, mengembangkan sikap toleransi sosial serta kemampuan mensyukuri nikmat Allah.
- Tahajud Bersama, antara siswa, guru dan karyawan, diadakan satu bulan sekali secara teratur.
- Mengundang tokoh, untuk mengisi acara life skills.
Pengembangan Kultur Sekolah
Pengembangan kultur sekolah merupakan tugas yang dibebankan kepada seluruh komunitas Lazuardi. Kami memfasilitasi pengembangan kultur sekolah dengan tata aturan disiplin dan program pengembangan SDM. Alhamdulillah berkat sinergi yang baik diantara seluruh komunitas Lazuardi, Kultur Sekolah mengalami perkembangan yang menggembirakan.
Sosialisasi Program Rintisan SMA BI
Program rintisan SMA BI disosialisasikan ke berbagai pihak diantaranya siswa, komite sekolah, dinas pendidikan kota Depok, pemerintah provinsi.
|
|
Events Calendar
Fatal error: Allowed memory size of 33554432 bytes exhausted (tried to allocate 262144 bytes) in /home/lazuardh/public_html/components/com_sef/sef_ext.php on line 898
|